Slider


Sate Komoh Warung Lama Haji Ridwan

ilustrasi (sumber: kimarela.com/warung-lama-haji-ridwan/)

Sate nikmat di Kota Malang yang dirintis nyaris seabad lalu. Kota Malang dikenal dengan tempat kulinernya yang lawas. Tempat-tempat yang sangat direkomendasikan untuk dinikmati sebagai bagian sejarah kuliner.
Salah satu tempat 'makan-makan' yang perlu didatangi, yakni di Warung Lama Haji Ridwan. Warung yang berada di lantai dasar Pasar Besar Kota Malang ini sudah dikenal masyarakat setempat sebagai kuliner legendaris. Bukan karena usianya yang telah dibuka sejak 1925, melainkan juga dua menu khas yang menjadi keunggulannya.
Haji Yusuf Bakhtiar merupakan generasi ketiga yang sudah mulai memegang kendali warung legendaris tersebut sejak 1971. Sebelumnya, sang kakek yang juga perintis warung, Haji Ridwan, sudah berwirausaha di sekitaran Pasar Besar sejak 1919.
Dahulu berjualan kaki lima di sekitaran Pasar Besar (saat belum di buka). Dan saat Pasar Besar dibuka, mereka pindah ke lokasi sekarang. warung ini menjadi warung pertama yang buka di Pasar Besar, itulah kenapa disebut warung lama, ungkap Haj yusuf (Republika, Kamis 10/5).
Menu yang dijual sang kakek mulanya hanya tiga makanan, yakni rawon, gulai, dan sate komoh. Namun, dengan berjalannya waktu, menu mulai diperbanyak hingga mencapai puluhan saat ini. Selain sate komoh, nasi ayam lodho pedas menjadi menu khas Warung Lama Haji Ridwan.
Yusuf mengklaim, pihaknya merupakan pencetus sate komoh di Kota Malang. Sebelum warungnya menjual kuliner ini, tak ada warga Malang yang menjual makanan tersebut. Meski sudah banyak yang mengikuti menjual makanan ini, Yusuf mengaku, tak mempermasalahkannya karena kulinernya memiliki keunikan tersendiri.
Sate komoh pada dasarnya serupa dengan makanan umum lainnya. Hal yang membedakan, kata dia, bahan daging sapi berkualitas sehingga empuk dan enak dikonsumsi. Kemudian cara memasaknyapun memiliki kekhasan tersendiri.
"Sebelum ditusuk, daging sapinya sudah kita bumbui. Terus dibakar pakai anglo dan dibumbui lagi," kata Yusuf. Selain itu, Yusuf hingga saat ini masih memakai anglo sebagai alat memasak sate komoh. Entah mengapa Yusuf lebih merasa nyaman menggunakan alat tradisional tersebut meski telah tersedia yang lebih modern.
Apalagi, terkadang terdapat beberapa pembeli suka membakar sate sendiri dengan menggunakan alat tersebut. Anglo pada dasarnya serupa dengan tungku sebagai alat untuk memasak. Alat yang terbuat dari tanah liat ini acap dipakai sebagai tempat bakar dengan menggunakan bahan utama arang atau kayu bakar.
Karena berukuran besar dan berbahan daging sapi berkualitas, sate ini dibanderol dengan harga cukup mahal per tusuknya, yakni Rp 12 ribu. Meski agak mahal, Yusuf setidaknya berhasil menghabiskan 100 tusuk per harinya. Untuk menikmati ini, pengunjung hanya perlu datang ke lantai dasar Pasbes Kota Malang dari pukul 07.00 sampai 16.00 WIB.
Tak hanya sate komoh, Warung Lama Haji Ridwan juga memiliki nasi ayam lodho pedas sebagai menu khasnya. Penyajian kuliner ini agak sedikit berbeda dengan asal makanan tersebut yang berada di Tulungagung. Kuliner tak memakai lalapan dan kuahnya tidak berwarna putih, tapi merah.
"Kuliner ini ada saat generasi saya. Dan lagi, kuliner ini sempat diminta mendiang Bondan Winarno sebagai 100 masakan nusantara," kata ayah dari tiga anak ini. Pembeli Susmari merupakan salah satu pelanggan setia dari Warung Lama Haji Ridwan.
Sumber: Republika newspaper, minggu 13/5/18

Post a Comment

0 Comments