Slider


Tekan Virus HIV Dengan Antibodi

Ilustrasi, sumber: pixabay.com

Para ilmuwan di Amerika Serikat (AS) telah menemukan cara untuk menekan HIV pada pasien selama berbulan-bulan. Ilmuwan tersebut menggunakan dosis antibodi kembar yang dapat merevolusi cara penyakit itu diobati.

Dilansir dari Malay Mail, sejumlah besar orang menerima obat antiretroviral (ARV) untuk mengelola HIV secara global. Namun, para pasien harus mengikuti aturan medis yang ketat untuk tetap sehat. Biasanya minum pil ARV setiap hari selama sisa hidup mereka. Sekarang peneliti mengatakan, kombinasi dua protein yang diketahui dapat menetralkan efek HIV mampu menekan virus pada pasien.

Efek penekanan virus tersebut bahkan bisa hingga 30 pekan pada satu waktu. Ini memberikan harapan baru bagi pengobatan alternatif untuk dosis obat harian. Aturan pengobatan berbasis antibodi yang aman akan membuka kemungkinan baru bagi orang yang hidup dengan HIV. Ini merupakan langkah awal yang penting, kata Direktur Institut Alergi dan Penyakit Menular Nasional di negara bagian Maryland AS, Anthony Fauci.

Dalam studi ganda di jurnal Nature and Nature Medicine, peneliti merekrut 15 relawan yang telah mengobati mereka dengan obat ARV. Setelah menghentikan pengobatan, mereka menerima infus dua antibodi yang ditemukan secara alami pada orang yang tubuhnya dapat mengendalikan HIV tanpa obat.

Antibodi menargetkan protein di bagian luar virus dan menggunakan sistem kekebalan pasien untuk memerangi infeksi. Protein diberikan bersama-sama untuk mencegah HIV mengembangkan kekebalannya. Para pasien tersebut menerima infus lebih lanjut setelah tiga pekan. Kemudian mereka diberikan infus lagi setelah enam pekan.

Para ilmuwan menemukan bahwa para responden tersebut mampu mempertahankan level HIV-nya di tingkat yang 'aman' selama rata-rata 15 pekan. Dua responden dalam penelitian ini bahkan berhasil hingga jangka waktu 30 pekan.

Profesor imunologi molekuler di Universitas Rochester, Michel Nussenzweig, mengatakan, cara ini telah dicoba pada masa lalu, tapi dengan antibodi yang jauh kurang ampuh dan itu tidak berhasil. Ide kami adalah untuk memodifikasi agar membuatnya lebih tahan lama sehingga orang dapat menerima terapi beberapa kali setahun daripada mengonsumsi pil setiap hari, ujar Nussenzweig.




Sumber: Republika newspaper, Rabu 17/10/18

Post a Comment

0 Comments