Slider


Penemuan terbaru Pengobatan Kanker Paru

Ilustrasi paru-paru sumber: pixabay.com

Seseorang yang menderita tumor ganas yang tumbuh dari sel-sel paru membuat fisiknya melemah, nyeri punggung, sesak napas, serta batuk terus-menerus bahkan hingga mengeluarkan darah. Di Indonesia, kanker paru menjadi salah satu jenis kanker yang paling banyak menyerang dan berakibat pada kematian.

Menurut data dari Globocan 2018, kanker paru bahkan menjadi penyebab utama pada kasus kematian akibat kanker di dunia, dengan jumlah 2,1 juta jiwa. Begitu pun di Asia, kanker paru menduduki jumlah penderita sekaligus kematian tertinggi dibandingkan wilayah lainnya. Saat ini, di Indonesia diperkirakan 40 per 100 ribu orang berisiko terkena kanker paru, terutama pria berusia di atas 40 tahun dan perokok aktif.

Beberapa waktu ini, ilmu kedokteran menemukan terapi untuk pengobatan kanker paru, yaitu imunoterapi. Terapi tersebut dinilai mampu memberi harapan baru bagi pasien kanker paru dalam meningkatkan kelangsungan hidup. Imunoterapi sudah tersedia sejak 2017 di Indonesia, meski terbatas di rumah sakit besar saja.

Pulmologis di Departemen Pulmologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedok teran Universitas Indonesia RSUP Persahabatan, dr Sita Laksmi Andarini PhD SpP (K), mengemukakan, imunoterapi telah menjadi bagian penting dalam pengobatan kanker. "Imunoterapi kini sudah menjadi terapi standar. Dulu memang ini dianggap sebagai alternatif saja," kata Sita dalam diskusi Forum Ngobras, di Menteng, Jakarta, (28/2/19).

Pengobatan tersebut sudah mendapat persetujuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk pengobatan kanker stadium lanjut lini kedua. Dengan demikian, terapi tersebut diberikan jika pengobatan lini pertama, seperti pembedahan atau kemoterapi, gagal. "Kalau di luar negeri seperti Amerika, FDA (Food and Drugs Adminis tration––Red) sudah menyetujuinya sebagai pengobatan lini pertama," katanya menambahkan.(Republika, 19/3/19)

Sita menjelaskan, imunoterapi adalah pengobatan kanker yang bertujuan mencegah interaksi antara sel T milik sistem imun tubuh dan tumor. Saat tumor dan sel T berinteraksi, sebuah protein di tumor yang disebut programmed death-ligand 1 (PDL1) melumpuhkan sel T. Akibatnya, sel-sel imun tidak dapat mengenali sel kanker untuk membunuhnya.

"Sel-sel kanker kan sangat pintar. Dia bisa membuat zat-zat yang melemahkan respons imun atau dengan cepat berganti bentuk sehingga sulit dikenali sel-T. Melalui imunoterapi ini, interaksi ini dihambat sehingga sel T bisa mendeteksi dan mengenali sel kanker," kata dia.

Imunoterapi dalam penelitian tersebut adalah pembrolizumab atau anti-PD-L1. Cara kerjanya memutus ikatan reseptor PD1 yang ada di sel-sel limfosit T (bagian dari sistem imun) dengan PD-L1 yang ada di permukaan sel-sel kanker. Percobaan klinis menunjukkan obat itu juga meningkatkan usia harapan hidup dan memiliki aktivitas antikanker yang kuat pada pasien kanker paru stadium lanjut.

Menurut Sita, pemberian pembrolizumab lewat infus selama 30 menit setiap tiga pekan sekali. Seperti terapi lainnya, imunoterapi juga harus dinilai dan dievaluasi setiap hampir delapan pekan sekali. ''Evaluasinya untuk meng-update apakah cairannya berkurang, lalu apakah berat badan pasien bertambah atau hal lainnya," kata dia.

Anti-PD-L1 pembrolizumab bisa membuat pasien kanker paru mengalami progression free survival (masa tumor tidak berkembang) selama 10 bulan. Hasil pengamatan di RS Persahabatan pada pasien-pasien dengan pembrolizumab sudah berlangsung 21 bulan dan 50 persen pasien masih bertahan.

"Masa 10 bulan terbebas dari gejala ini nampaknya tidak bermakna, tetapi bagi pasien akan sangat bermakna. Imunoterapi sangat memberikan harapan pasien karena angka harapan hidup pasien jadi lebih panjang dibandingkan pasien yang hanya mendapatkan kemoterapi," kata Sita.




ed: WK













Post a Comment

0 Comments