Slider


Bus Listrik: Apakah akan berdampak positif?

ilustrasi bus listrik (pixabay.com)
JAKARTA - Pengamat Lingkungan dari Universitas Indonesia, Tarsoen Waryono menilai, kehadiran bus listrik Transjakarta jika diterapkan akan memberi efektivitas yang cukup bagi kondisi lingkungan dan transportasi kota Jakarta.

Meski demikian, menurutnya, kehadiran bus listrik Transjakarta tidak akan optimal jika pengelola tidak konsisten dan konsekuen dalam operasionalnya. Menurut Tarsoen, pemerintah dan pengelola harus tegas dengan ide bus listrik Transjakarta ini, dengan kehadiran bus listrik justru malah menambah pesaing transportasi Ibu Kota.

Meskipun dianggap cukup efektif, Tarsoen menilai akan lebih baik apabila pemerintah mengoptimalkan moda transportasi Transjakarta yang sudah lebih dulu ada. Hal ini dinilai lebih optimal ketimbang merancang dan membuat kembali alternatif moda transportasi baru.

"Lebih baik bajaj, oplet dan lainnya jangan diperbolehkan beroperasi lagi. Efektifkan penggunaan Transjakarta," tegas Tarsoen. Sehingga, menurut Tarsoen, penyediaan bus listrik tidak lantas bisa menjadi jalan keluar dari permasalahan transportasi dan polusi Ibu Kota.

"Kendaraan-kendaraan yang sudah tidak efektif ini yang mestinya diganti. Ini karena kendaraan semacam itu yang justru paling banyak mengeluarkan polusi," jelas Tarsoen, ungkapnya dikutip dari Republika (3/4/19)

Sementara Dwi Sawung dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mengapresiasi langkah pemerintah DKI Jakarta untuk mengoperasikan bus listrik Transjakarta. Menurutnya, langkah itu sudah tepat sebagai upaya mengurangi polusi udara dan kerusakan lingkungan.

Terkait dengan isi ulang baterai, Dwi menilai, akan lebih baik apabila pengelola bisa menyediakan panel matahari di seluruh halte Transjakarta. Hal ini, menurutnya akan lebih murah ketimbang menggunakan pengisian listrik konvensional. "Akan lebih bagus kalau semua halte bisa dipasang panel matahari sehingga armada bus bisa melakukan isi ulang kapan saja," katanya saat di hubungi reporter (3/4/19).

Untuk diketahui, bus listrik dalam pengoperasiannya dengan cara mengisi daya. Untuk mencapai baterai terisi penuh dari kondisi kosong dibutuhkan waktu sekitar 3 jam hingga baterai benar-benar terisi seratus persen. Baterai penuh itu dapat digunakan untuk berjalan sejauh 300 km. Saat ini, baru ada dua unit pengisian bahan bakar bis listrik yakni di Pulo Gadung, Jakarta Timur.

Terkait hal itu, Dwi meyakini tidak akan terjadi masalah jika sewaktu-waktu bus kehabisan daya di tengah jalan. Hal ini karena adanya pusat pengendali kontrol bus yang mampu mencatat dan mengatur jadwal pengisian dan perjalanan bus ini. "Saya kira itu tidak akan terjadi karena ada pusat pengendali yang mengaturnya jadi tidak perlu dikhawatirkan," kata Dwi.

Masalah lain yang perlu diperhatikan dalam pengoperasian bus listrik ini yaitu harga baterai yang cenderung mahal. Meski demikian, Dwi menilai harga baterai itu akan sepadan dengan keuntungan yang didapat dari penggunaan.

Dibandingkan dengan bus konvensional, penggunaan bus listrik akan berdampak signifikan dalam mengurangi polusi udara Ibu Kota. "Apalagi Jakarta itu kan masuk 10 besar kota berpolusi, jadi dengan adanya bis listrik ini polusi akan berkurang banyak," katanya.

Ia juga menyoroti masalah yang timbul dari polusi udara itu sendiri yaitu masalah kesehatan warga Ibu Kota. "Dari catatan, masalah kesehatan warga Jakarta itu kebanyakan masalah pernafasan. Jadi kalau ada bis listrik, polusi berkurang banyak maka akan berdampak juga ke kesehatan warga Jakarta," katanya.

Dengan demikian, Dwi menilai, mahalnya harga baterai tidak seberapa dibanding kerugian hidup yang selama ini dirasakan oleh warga Jakarta akibat polusi. Selain itu, tambah Dwi, baterai untuk bis listrik pun lebih awet dan tahan lama. "Yang mahal itu sebenarnya di biaya perawatan. Tapi saya kira kalau pengelola mampu mengelola dengan benar saya kira tidak akan jadi masalah," tambahnya.

Dwi juga menilai perlu adanya upaya mengganti semua unit bus Transjakarta dengan bis listrik. "Tapi tentu saja bertahap dan dilihat dulu uji cobanya," kata Dwi.

Ia juga mendesak agar PT Transjakarta dapat segera melegalkan keberadaan bus listrik agar dapat segera mengaspal di jalanan.

Sementara itu, PT Transjakarta sendiri berencana akan melakukan uji coba bis listrik ini. Sebelumnya bis listrik telah dipamerkan ke publik dalam pameran Busworld Southeast Asia di JIEXPO Kemayoran, Maret lalu. Pengadaannya sendiri merupakan produksi dalam negeri yakni PT Mobil Anak Bangsa.



Rep: Agata Eta/Republika
Red: WK











Post a Comment

0 Comments