Slider


Ratusan Persen Omset Pedagang R3 turun

Jalan Regional Ring Road (R3) arah wangun, sumber: maya/radar bogor

BOGOR – Dampak dari penutupan lahan Regional Ring Road (R3) nyatanya merugikan para pedagang di sekitar jalan tersebut. Warisman yang merupakan salah satu pedagang di Jalan Baru R3, Katulampa, Kota Bogor rupanya harus bertahan ditengah lahan sengketa tersebut. Kios dan dagangan bunga memang masih kokoh dan terlihat segar karena masih rutin dirawat, namun, sepinya konsumen menjadi masalah dalam mata pencahariannya selama ini.

Tidak banyak orang yang mengunjungi jalur tersebut, lalu lalang motor pun terbatas karena akses yang masih ditutup selama hampir empat bulan. Warisman mengatakan, pendapatannya sangat terganggu karena perselisihan antara Pemkot Bogor dan Pemilik lahan belum menemui jalan keluar. Warung ber cat biru dengan beberapa kursi dan meja tersebut tampak selalu sepi meskipun Warisman ditemani sang istri dalam usahanya sehari-hari.

Lahan seluas 1.987 meter persegi yang ditutup oleh pemilik lahan, Haji Abdullah Salim atau yang akrab disapa Haji Aab tersebut dikarenakan dana kompensasi dan pembayaran lahan belum dibayarkan kepadanya oleh Pemkot Bogor. Sebenarnya, ada banyak warung atau kios di sepanjang lahan yang di tutup tersebut, dan hanya warung milik Warisman yang masih menunggu pelanggan setiap harinya, sedang pedagang lainnya sudah pergi entah kemana dan menyisakan kios yang hampir ambruk dan tumbuhan yang terlihat kering dibeberapa bagian.

Tampak pada Rabu (3/4/19) pagi dimana warungnya mulai dibuka hingga tengah hari, warung miliknya belum mendapatkan pelanggan satupun. Padahal jika jalur tersebut beroperasi dengan lancar, sehari paling kecil ia dapatkan sekitar 250 hingga 300 ribu rupiah. “sekarang mah boro-boro, sehari kadang dapet 50 ribu. Kadang ga dapet sama sekali,”ujarnya kepada Republika, Rabu (3/4/19).

Meski sangat jarang konsumen yang datang ke warungnya, warisman tetap masih akan bertahan di jalur tersebut dengan harapan jalan bisa dibuka kembali agar omset bisa menjadi normal lagi. Warisman kemudian bercerita, jika dulu orang-orang berkumpul di warungnya, sekarang sudah tidak, ia mengatakan omsetnya turun sangat drastis, lebih dari 300 persen. Warisman yang mengenakan kaos oblong dan celana panjang sambil duduk di bale bambu miliknya mengenang penjualan bunga terakhir yang terjadi dalam kurun waktu empat bulan lalu. Ia bercerita mengenai penjualan terakhirnya itu, beberapa bunga dibeli oleh satu keluarga dengan harga sekitar 950 ribu rupiah.

“Setelah jalan tutup ini, udah mau empat bulan sangat terasa dan omset pun sangat jauh merosot,” ucapnya.

Sebelumnya, Ahad (31/3/19) warga sekitar katulampa melakukan aksi unjuk rasa di jalanan yang ditutup tersebut. Mereka menuntut agar pemerintah dan pemilik lahan melakukan proses persidangan dengan cepat. Jika tuntutannya tidak terpenuhi hingga bulan Ramadhan tiba maka mereka akan mengumpulkan koin dan berencana untuk mengawal proses persidangan agar berjalan cepat.

Sekertaris Daerah Kota Bogor, Ade Sarip Hidayat yang ditemui Republika ketika unjuk rasa tersebut berjanji akan membuka jalur tersebut sebelum bulan Ramadhan. Pihaknya sudah melakukan pertemuan informal dengan pemilik lahan dan hasilnya menurut Ade sudah memunculkan titik terang untuk segera membuka jalur R3.

Ade menambahkan, akan mengupayakan semaksimal mungkin, karena menurutnya keberatan dari pemilik lahan mengenai kompensasi yang tidak tercantum dalam appraisal masih akan diproses lagi. Menurutnya, persidangan dari gugatan ganti rugi pertama yang akan dilaksanakan Senin, (15/4/19) mendatang diharapkan akan berjalan cepat sehingga persidangan diasumsikan olehnya bisa selesai 25 april mendatang. Ia berharap dari proses persidangan tersebut R3 bisa selesai secepatnya.

“aksi damai ini menjadi motivasi kami dan pemilik lahan untuk melakukan musyawarah kembali agar jalan bisa segera dipakai kembali,”ujarnya



Rep: Zainur Mahsir Ramadhan/Republika
Red: WK

Post a Comment

0 Comments